Ada
dialog yang cukup menggugah dan terjadi pada masa 'Amr Ibn Al-'Ash. Di siang
hari, saat sedang istirahat, datanglah putra 'Amr Ibn Al-'Ash berkata
kepadanya, "Wahai Ayahku, terangkanlah kepadaku tentang kematian. Sebab,
engkaulah orang yang paling tepat bagiku untuk menerangkan masalah itu." 'Amru
Ibn Al-'Ash merasa senang bercampur takut. Senang, karena anaknya mampu
menjadikan dirinya bukan hanya sekedar ayah, tapi juga tempat bertanya dan
berkeluh kesah. Takut, karena pertanyaan yang diajukan anaknya adalah
pertanyaan yang cukup berat untuk dijelaskan. Sebab, tak ada seorang pun yang
berani mengilustrasikan beratnya kematian itu. Dengan santai dan penuh
kehati-hatian, 'Amr Ibn Al-'Ash menjawab, "Wahai anakku, Demi Allah,
sungguh kematian itu seperti gunung-gunung yang ada di dunia ini sedang
diletakkan di dadaku dan aku bernapas seperti bernapas dari lubang jarum."
Mendengar jawaban 'Amr Ibn Al-Ash, sepertinya kematian itu cukup berat sekali.
Seakan-akan tak sebanding dengan kehidupan yang dijalani di dunia ini. Padahal,
kehidupan dan kematian adalah pasangan yang ditakdirkan oleh Allah SWT. Namun,
kematian yang dikatakan 'Amr Ibn Al-'Ash itu adalah kondisi umum yang akan
terjadi pada manusia yang memiliki bekal kematian. Dan, jawaban itu bersumber
dari Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah. Di dalam surat Al-Hijr ayat 84, Allah SWT berfirman,
"Maka tak dapat menolong mereka apa yang mereka usahakan." Memahami
firman Allah tersebut, akan semakin membuat kita kian goyah dan kian takut
menghadapi kematian yang akan dialami nanti dan terasa cukup berat sekali.
Karena apa yang diusahakan di dunia ini akan sia-sia. Harta banyak yang telah
diusahakan tidak mampu membantu. Isteri cantik yang dibanggakan selama ini tak
bisa menolong. Anak yang pintar tak bisa membantu saat kematian menghampiri.
Nyaris kondisi kita seperti apa yang dikatakan Rasulullah dalam haditsnya.
Rasulullah SAW bersabda, "Tiada lain kondisi mayat di dalam kuburnya
kecuali seperti orang tenggelam yang mencari pertolongan." Maka tepat apa
yang dikatakan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA tentang kematian, "Siapa yang
masuk kubur tanpa bekal, seperti halnya melintasi laut tanpa perahu."
Hanya kalimat hauqalah yang bisa kita ucapkan mendengar komentar Umar bin
Khattab tentang kematian. La Haula Wala Quwwata Illa Billah. Lalu, bekal apa
yang harus dicari agar kita bisa bernapas sekalipun seperti bernapas di lubang
jarum? 'Aid Al-Qarni dalam bukunya Wa Ja'at Sakrat Al-Maut bi Al-Haqq
menyatakan paling tidak ada empat hal yang harus dilakukan umat Muhammad agar
memiliki bekal di dalam kubur. Pertama, sering menziarahi kubur. Dengan ziarah
kubur, akan mengingatkan kita bahwa suatu saat kita akan merasakan seperti apa
yang dirasakan si mayat di dalam kubur. Dari salam yang diucapkan penziarah
hingga pertanyaan yang diajukan malaikat di dalam kubur. Dengan ziarah kubur,
kita akan merenungkan bahwa kematian telah memisahkan kita dari segalanya yang
ada di dunia ini dan mencampakkan kita ke dalam lubang yang gelap gulita. Tak
ada lagi isteri, anak, harta, dan pakaian yang dibanggakan. Kematian
menghapuskan semua itu dan memasukkan kita ke dalam lubang yang mengerikan.
Kedua, menziarahi orang shaleh. Dengan seringnya mengunjungi orang shaleh dan
mendengarkan nasehatnya, akan membuat kita terasa tenang, sekalipun kematian
itu berat. Karena bernafas bagaikan dari lubang jarum yang dikatakan 'Amr Ibn
Al-'Ash adalah gambaran umat Muhammad yang memiliki bekal kematian. Orang
shaleh yang paling baik adalah orang-orang yang mengetauhi ilmu syari'at serta
mendalami Al-Qur'an dan Hadits Rasul. Karena mereka hidup selalu diiringi
dengan hujjah yang jelas dan memiliki firasat yang tajam dan akurat sebagai
rahmat dan anugerah dari Allah untuk mereka. Bahkan Rasullullah sangat
menganjurkan untuk berteman dengan orang shaleh yang berilmu dan mengamalkan
ilmunya. Rasulullah SAW bersabda, "Bertemanlah kalian dengan ulama dan
dengarkanlah perkataan hukama' (ahli hikmah). Karena Allah SWT menghidupkan
hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana menghidupkan tanah gersang
dengan hujan." Bukan hanya itu, Allah SWT juga berfirman tentang
pentingnya berteman dengan orang shaleh dalam surat Az-Zukhruf ayat 67,
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian lain
kecuali orang-orang yang bertakwa." Ketiga, membaca Al-Qur'an. Al-Qur'an
adalah kalam Allah SWT yang terdapat di dalamnya penjelasan tentang kematian,
bekal yang dibawa, dan kehidupan yang akan dirasakan di dalam kubur. Dengan
aktif membaca Al-Qur'an, seorang muslim menghadapi kematian tidak lagi dalam
kondisi penuh ketakutan. Ia masih mampu bernafas, meskipun seperti kata 'Amr
Ibn Al-'Ash seolah-olah bernafas dari lubang jarum. Karena Rasulullah SAW
menceritakan bahwa orang yang rajin membaca Al-Qur'an akan mendapatkan syafa'at
dari Al-Qur'an itu sendiri. Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah Al-Qur'an,
karena sesungguhnya ia akan datang kepada para pembacanya kelak di hari kiamat
dengan membawa syafa'at." Bukan hanya itu saja, Rasulullah SAW juga
mengkategorikan orang yang aktif membaca Al-Qur'an sebagai umat terbaiknya.
Rasulullah SAW berkata, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari
Al-Qur'an dan mengajarkannya." Subhanallah, begitu mulia kedudukan pembaca
Al-Qur'an. Dengan membaca Al-Qur'an, bekal yang dibawa sudah apik, apalagi jika
Al-Qur'an telah tertanam dalam hati seorang hamba, maka ia akan memberikan
pengaruh dan manfaat yang sangat luar biasa bagi hamba tersebut. Keempat,
mengurangi cita-cita yang bersifat dunia. Artinya, cobalah untuk tidak takluk
dengan dunia. Jadikan dunia dan isinya hanya sebagai kendaraan untuk
mendapatkan ridha Allah SWT. Karena dunia bukanlah tempat terakhir bagi kita.
Masih ada tempat pertanggungjawaban yang melahirkan vonis apakah kita masuk
penduduk yang merasakan nikmatnya jamuan-jamuan surga ataukah kita masuk
penduduk yang harus berdomisili dulu di tempat pembalasan atas perbuatan keji
kita di dunia dulu. Maka Rasulullah SAW selalu menasehati para sahabat dengan
mengatakan, "Hiduplah di dunia ini bagaikan seorang pengembara."
Sehingga, pesan Ibnu Umar layak untuk diingat, "Jika engkau sedang berada
pada hari ini, maka janganlah engkau tunda-tunda sampai hari esok. Jika engkau
sedang berada pada waktu sore, maka janganlah engkau tunda-tunda hingga pagi
hari. Pergunakanlah sehatmu sebelum datang sakitmu dan pergunakanlah hidupmu
sebelum datang matimu." Karena itu, marilah bertobat dan aktif berbuat
baik. Tidaklah ada persiapan diri untuk menghadapi kematian yang lebih baik
kecuali dengan menyegerakan diri bertobat dan senantiasa memperbaharui tobat
dari hari ke hari. "Setiap yang berjiwa, pasti akan merasakan mati."
(QS. Ali Imran : 185). Demikianlah Allah menegaskan tentang keberadaan
kematian. Maka Sabda Rasulullah SAW, "Perbanyaklah olehmu mengingat si
pencabut semua kesenangan." Kematian dikatakan sebagai si pencabut nyawa
karena ia memisahkan seseorang dari apa pun dan siapa pun yang dicintainya dan
akan ditempatkan ke dalam lubang yang gelap gulita. Semoga dengan bekal-bekal
yang dijelaskan di atas, kematian dan gelapnya kubur tidak lagi menjadi hal
yang begitu mengerikan sekali. Aamiin.
Allah
berfirman [artinya]:
‘’Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan
ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah
menyesatkan orang-orang yang zalim dan berbuat apa yang Dia kehendaki’’
(Ibrahim: 27)
Al-Bukhari meriwayatkan dari Al-Barra bin ‘Azib
radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
‘’Apabila seorang muslim ditanya di dalam kubur, maka dia bersaksi babwa tiada
Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Itulah maksud
firman Allah, Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat’’ (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini pun diriwayatkan oleh Muslim dan
sejumlah kelompok orang yang menerima dari hadits Syu'bah juga.
Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Barra bin Azib,
dia berkata, ‘’Kami mengantarkan jenazah salah seorang dari kaum Anshar bersama
Rasulullah. Kami tiba ke suatu kubur yang belum ditutup lahat. Maka Rasulullah
shalallahu ’alaihi wa sallam duduk dan kami pun duduk di sekitarnya.
Seolah-olah di atas kepala kaini ada burung sedang di kakinya ada kayu yang
hendak dijatuhkan ke bumi. Beliau menengadahkan kepalanya lalu bersabda,
'Mintalah perlindungan kepada Allah dari azab kubur.' Beliau mengatakannya dua
atau tiga kali. Kemudian beliau melanjutkan, 'Apabila seorang hamba yang
beriman meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, maka turunlah kepadanya para
malaikat dari langit yang berwajah putih seperti matahari. Mereka membawa kain
kafan dan membawa beberapa selimut dari surga. Mereka duduk di dekat hamba itu
dengan mengarahkan pandangan. Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk di
dekat kepala hamba seraya berkata, 'Hai nafsu yang baik, keluarlah untuk menuju
maghfirah dan keridhaan dari Allah.' Maka nafsu pun keluar mengalir seperti
mengalirnya tetesan air dari minuman. Malaikat maut mengambilnya. Tatkala ia
mengambilnya, maka para malaikat lain tidak membiarkan nafsu itu berada di
tangan malaikat maut sekejap mata pun sehingga mereka mengambilnya lalu
meletakkan di dalam kafan dan selimut tersebut. Dari nafsu (ruh) itu keluar
semerbak wangi yang lebih harum daripada kesturi yang ada di permukaan bumi.
Para malaikat membawanya naik. Tidaklah mereka melintasi suatu kelompok
malaikat melainkan mereka berkata, Bau harum apakah itu?' Para malaikat pembawa
ruh menjawab, 'Ia adalah bau ruh si fulan bin fulan.' Mereka memanggilnya
dengan nama terbaik yang dahulu digunakan di dunia. Akhirnya, sampailah mereka
di langit dunia. Mereka meminta dibukakan untuk ruh itu. Lalu dibukakanlah
untuknya serta disambutlah oleh setiap malaikat penghuni langit lalu
diantarkanlah hingga ke langit berikutnya, hingga sampai di langit ketujuh.’’
Maka Allah Ta'ala berfirman [artinya],
‘’Tuliskanlah catatan hamba-Ku di dalam surga yang tinggi dan kembalikanlah dia
ke bumi karena dari bumilah Aku menciptakan mereka dan ke bumilah Aku
mengembalikan mereka serta dari bumilah Aku mengeluarkan mereka pada kali yang
kedua. Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, Kemudian ruh itu
dikembalikan ke jasadnya. Ia didatangi oleh dua malaikat lalu mendudukkannya.
Kedua malaikat berkata kepadanya, 'Siapakah Tuhanmu?' Dia menjawab, 'Tuhanku
adalah Allah.' Kedua malaikat itu bertanya, 'Apa agamamu?' Dia
menjawab,'Agamaku Islam.' Kedua malaikat bertanya,'Siapakah prang yang diutus
kepadamu?' Dia menjawab,'Orang itu adalah Rasulullah.' Kedua malaikat
bertanya,'Apa pengetahuanmu?' Dia menjawab,'Aku membaca kitab Allah, maka aku
mengimani dan membenarkannya.' Tiba-tiba ada seorang penyeru dari langit,
'Benarlah hamba-Ku. Maka hamparkanlah untuknya.sebagian dari hamparan surga dan
kenakanlah kepadanya sebagian pakaian surga serta bukakanlah baginya sebuah
pintu dari surga.’’
Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘’Maka
didatangkanlah kepadanya ruh dan kebaikannya. Allah melapangkan kuburan itu
baginya seluas mata memandang. Kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki
berwajah tampan, berpakaian bagus, dan berbau harum, lalu bertanya,
'Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dahulu
dijanjikan kepadamu.' Mayat orang mukmin berkata, 'Siapakah kamu? Wajahmu
merupakan wajah yang datang untuk membawa kebaikan.' Orang itu menjawab, 'Aku
adalah amal salehmu.' Mayat orang mukmin berkata, 'Ya Tuhanku, segerakanlah
kiamat agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku’’.
Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
‘’Sedangkan apabila seorang hamba yang kafir meninggalkan dunia dan menuju
akhirat, maka turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang berwajah hitam.
Mereka membawa tenunan kasar dan duduk di dekatnya sambil mengawasinya.
Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata,
'Hai ruh yang buruk, keluarlah untuk menuju kemurkaan dan kemarahan dari
Allah.' Nabi bersabda, 'Maka ruh meninggalkan jasadnya. Malaikat maut mencabut
ruh seperti menarik tusuk besi dari daging basah. Malaikat maut mencabutnya.
Setelah dia mencabutnya, dia tidak membiarkan di tangannya sekejap pun sehingga
ruh itu disimpan di dalam tenunan kasar. Maka keluarlah darinya bau yang lebih
busuk dari bangkai terbau yang ada muka bumi. Para malaikat membawanya naik.
Tidaklah mereka melintasi suatu kelompok malaikat melainkan mereka berkata, Bau
busuk apakah ini?' Mereka menjawab, 'Ini bau busuk si fulan bin fulan.' Mereka
memanggilnya dengan nama terburuk yang dahulu digunakan di muka bumi. Mereka
sampai di langit dunia seraya meminta dibukakan pintu untuknya. Namun pintu itu
tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam membaca
ayat [artinya], 'Tidak dibukakan baginya pintu-pintu langit dan mereka tidak
akan masuk surga hingga unta masuk ke dalam lubang jarum.' Maka Allah Ta'ala
berfirman [artinya], 'Tuliskanlah baginya tempat di dasar bumi yang terendah.'
Kemudian malaikat melemparkan ruh itu dengan keji. Lalu Rasulullah membaca ayat
[artinya], 'Adapun orang yang menyekutukan Allah, maka dia seolah-olah jatuh
dari langit, lalu disambar burung atau dia dihempaskan oleh angin ke tempat
yang jauh.'
Kemudian ruh itu kembali ke jasadnya. Lalu
datanglah dua malaikat seraya mendudukkannya dan berkata, 'Siapakah Tuhanmu?'
Dia menjawab, 'A... e... aku tidak tahu.' Kedua malaikat itu bertanya, 'Apa
agamamu?' Dia menjawab, 'A... e... aku tidak tahu.' Kedua malaikat
bertanya,'Siapakah orang yang diutus kepadamu?' Dia menjawab, 'A... e... aku
tidak tahu.' Tiba-tiba ada seorang penyeru dari langit, 'Hamba-Ku berbohong.
Maka hamparkanlah untuknya sebagian dari hamparan neraka dan bukakanlah baginya
sebuah pintu dari pintu neraka. Lalu datanglah kepadanya panas dan racun api
neraka. Allah menyempitkan kuburan itu baginya hingga tulang rusuknya
berceceran. Kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki berwajah buruk,
berpakaian buruk, dan berbau busuk, lalu berkata, 'Bergembiralah dengan apa
yang menyedihkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.' Mayat orang
kafir berkata, 'Siapakah kamu? Wajahmu merupakan wajah yang datang untuk membawa
keburukan.' Orang itu menjawab, 'Aku adalah amal burukmu.' Mayat orang kafir
berkata, 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau menyegerakan kiamat.' Hadits ini pun
diriwayatkan dari Abu Daud dari hadits al-Amasy, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah dari
hadits al-Manhal bin Amr.
Imam Abd bin Humaid rahimahullah ta'ala
meriwayatkan di dalam musnadnya dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah
shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, 'Apabila seorang hamba diletakkan di
dalam kuburnya, ditinggalkan oleb para sababatnya dan dia dapat mendengar suara
sandal mereka, maka datanglah dua malaikat lalu mendudukkannya seraya bertanya,
'Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?' Nabi bersabda, Jika mayat itu orang
mukmin, maka dia menjawab, 'Aku bersaksi babwa dia adalah hamba dan Rasul Allah.'Dikatakan
kepada hamba itu, 'Lihatlah tempatmu di neraka dan Allah telah menggantinya
dengan tempat di surga.' Kemudian Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
Lalu orang itu melibat kedua tempat itu. '
Qatadah menceritakan: telah diceritakan kepada
kami bahwa Allah akan melapangkan kuburan bagi seorang mukmin seluas 70 hasta
dan memenuhinya dengan kelembutan hingga hari kiamat. Hadits itu pun
diriwayatkan oleh Muslim dari Abd bin Humaid dan dikemukakan oleh an-Nasa'i
dari hadits Yunus. bin Muhammad al-Mu'dib.
Jarir menwayatkan dari Abi Hurairah, dari Nabi
shalallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda, Demi Zat yang jiwaku berada
dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya mayat masih dapat mendengar suara sandalmu tatkala
kamu meninggalkannya. Jika dia orang yang beriman, maka shalat berada di dekat
kepalanya, zakat di sebelah kananya, shaum di sebelah kirinya, dan aneka amal
kebaikan seperti sedekah, silaturahmi, kemakrufan, dan ihsan kepada manusia
berada di dekat kedua kakinya. Kemudian didatangkan malaikat dari arah
kepalanya, maka shalat berkata, 'Tidak ada jalan dari arahku.' Kemudian
didatangkan malaikat dari arah kanannya, maka zakat berkata, 'Tidak ada jalan
dari arahku.' Kemudian didatangkan malaikat dari arah kirinya, maka shaum
berkata, 'Tidak ada jalan dari arahku.' Kemudian didatangkan malaikat dari arah
kakinya, maka aneka amal kebaikan berkata, 'Tidak ada jalan dari arahku.'
Kernudian dikatakan kepada mayat, 'Duduklah.' Mayat pun duduk. Saat itu, matahari
tampak olehnya sudah menjelang terbenam. Mayat itu ditanya, 'Jawablah hat-hal
yang hendak kami tanyakan kepadamu.' Mayat berkata,'Beri aku waktu untuk
shalat.' Malaikat berkata, 'Kamu akan mengerjakannya nanti. Sekarang jawab dulu
hal-hal yang akan kami tanyakan kepadamu.' Mayat bertanya, 'Masalah apakah yang
hendak kau tanyakan?' Maka dikatakan, 'Bagaimana pendapatmu tentang seorang
laki-laki yang ada di tengah-tengahmu dahulu, apa pendapatmu dan apa
kesaksianmu terhadapnya?' Mayat berkata, 'Maksudmu Muhammad?' Malaikat
berkata,'Benar.' Mayat berkata, 'Aku bersaksi bahwa dia merupakan rasul Allah.
Sesungguhnva dia datang kepada kami dengan membawa aneka penjelasan dari sisi
Allah, maka kami membenarkannya.' Maka dikatakan kepada mayat, 'Di atas pandangan
itulah kamu hidup, mati, dan dibangkitkan. Insya Allah.' Kemudian
dilapangkanlah kuburannya seluas 70 hasta dan diterangi. Dibukakan baginya
sebuah pintu menuju surga, lalu dikatakan, 'Lihatlah apa yang dijanjikan oleh
Allah untukmu di surga.' Maka semakin bertambahlah keinginan dan
kegembiraannya. Kemudian jiwanya ditempatkan dalam tubuh yang baik, yaitu
berupa burung hijau yang bergantung di pohon surga. Kemudian jasad dikembalikan
kepada asal ciptaannya, yaitu tanah. Itulah yang dimaksud oleh firman Allah
Ta'ala [artinya], ''Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan
yang kokoh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat''. Hadits itu pun
diriwayatkan oleh Ibnu Hibban.
Sehubungan dengan ayat ini al-Aufi meriwayatkan
dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa, sesungguhnya jika seorang mukmin meninggal,
maka para malaikat mengunjunginya, memberinya salam, dan menghiburnya dengan
surga serta diceritakan pula ihwalnya seperti telah dikemukakan dalam hadits di
atas. Kemudian Ibnu Abbas berkata bahwa, adapun terhadap mayat orang kafir,
maka malaikat turun sambil memukulkan sayapnya. Allah berfirman [artinya],
''Mereka memukul wajah dan bagian belakang mereka ketika mati''. Apabila dia
masuk ke dalam kubur, maka didudukkan, lalu ditanya, 'Siapakah Tuhanmu?' Maka
dia tidak ingat apa-apa dan dibuat lupa oleh Allah akan hal itu. Jika ditanya,
'Siapakah rasul yang diutus kepadamu?' Maka dia tidak memperoleh jawaban dan
tak ingat apa pun. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah
mengerjakan apa yang Dia kehendaki’‘
Diambil dari Ringkasan Tafsir Ibnu Katsier, Syaikh
Muhammad Ar-Rifa'i
Doa Ketika Melihat
Jenazah
Subhanal hayyil lazi la yamutu. Allahummagfir lihazal mayyiti warhamhu wa
anis fil qabri wahdatahu wa gurabatahu wa nawwir qabrahu.
Artinya: “Maha suci Zat Yang Hidup yang tidak akan mati. Ya Allah, ampunilah
mayit ini dan sayangilah dia, dan temanilah dia di dalam kesendirian dan
keasingannya di dalam kubur, dan terangilah kuburannya.”
Doa Ketika Mendengar Kematian Sanak Famili
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’una wa inna ila rabbina lamunqalibuna.
Allahummaktubhu ‘indaka fil muhsinina, waj’al katabahu fi ‘illiyyina wakhluf fi
ahlihi fil gabirina.
Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya dan
kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah! Tulislah dia (yang
meninggal dunia) termasuk golongan orang-orang yang berbuat kebaikan di sisi
Engkau dan jadikanlah tulisannya itu dalam tungkatan yang tinggi serta gantilah
ahlinya dengan golongan orang-orang yang pergi.”
Doa Ziarah Kubur
Assalamu’alaikum ya ahlad diyari minal mu’minina wal muslimina wa inna insya’allahu
bikum lahiquna. As’alullaha lana wa lakumul ‘afiyata.
Artinya: “Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kampung orang-orang mukminin
dan muslimin. Kami pun insyaallah akan bertemu dengan anda sekalian. Kumohon
pada Allah kesejahteraan bagi kami dan bagi anda sekalian.”
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على نبيه المصطفى، أما بعد
Khalifah kaum muslimin yang keempat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu jika
melihat perkuburan beliau menangis mengucurkan air mata hingga membasahi
jenggotnya.
Suatu hari ada seorang yang bertanya:
تذكر الجنة والنار ولا تبكي وتبكي من هذا؟
“Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau
menangis ketika melihat perkuburan?” Utsman pun menjawab, “Sesungguhnya aku
pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن القبر أول منازل الآخرة فإن نجا منه فما بعده أيسر منه وإن لم ينج منه فما بعده
أشد منه
“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang
selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun
jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih
kejam.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “hasan gharib”. Syaikh al-Albani
menghasankannya dalam Misykah al-Mashabih)
Bagaimanakah perjalanan seseorang jika ia telah masuk di alam kubur? Hadits
panjang al-Bara’ bin ‘Azib yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan
oleh Imam al-Hakim dan Syaikh al-Albani menceritakan perjalanan para manusia di
alam kuburnya:
Suatu hari kami mengantarkan jenazah salah seorang sahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dari golongan Anshar. Sesampainya di perkuburan, liang lahad
masih digali. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk (menanti)
dan kami juga duduk terdiam di sekitarnya seakan-akan di atas kepala kami ada
burung gagak yang hinggap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memainkan
sepotong dahan di tangannya ke tanah, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya
bersabda, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur!” Beliau ulangi
perintah ini dua atau tiga kali.
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya seorang
yang beriman sudah tidak lagi menginginkan dunia dan telah mengharapkan akhirat
(sakaratul maut), turunlah dari langit para malaikat yang bermuka cerah secerah
sinar matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga lalu duduk
di sekeliling mukmin tersebut sejauh mata memandang. Setelah itu turunlah
malaikat pencabut nyawa dan mengambil posisi di arah kepala mukmin tersebut.
Malaikat pencabut nyawa itu berkata, ‘Wahai nyawa yang mulia keluarlah engkau
untuk menjemput ampunan Allah dan keridhaan-Nya’. Maka nyawa itu (dengan
mudahnya) keluar dari tubuh mukmin tersebut seperti lancarnya air yang mengalir
dari mulut sebuah kendil. Lalu nyawa tersebut diambil oleh malaikat pencabut
nyawa dan dalam sekejap mata diserahkan kepada para malaikat yang berwajah
cerah tadi lalu dibungkus dengan kafan surga dan diberi wewangian darinya pula.
Hingga terciumlah bau harum seharum wewangian yang paling harum di muka bumi.
Kemudian nyawa yang telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap melewati
sekelompok malaikat di langit mereka bertanya, ‘Nyawa siapakah yang amat mulia
itu?’ ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’, jawab para malaikat yang mengawalnya
dengan menyebutkan namanya yang terbaik ketika di dunia. Sesampainya di langit
dunia mereka meminta izin untuk memasukinya, lalu diizinkan. Maka seluruh
malaikat yang ada di langit itu ikut mengantarkannya menuju langit berikutnya.
Hingga mereka sampai di langit ketujuh. Di sanalah Allah berfirman, ‘Tulislah
nama hambaku ini di dalam kitab ‘Iliyyin. Lalu kembalikanlah ia ke (jasadnya
di) bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka (para manusia), dan
kepadanyalah Aku akan kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku bangkitkan.’
Lalu nyawa tersebut dikembalikan ke jasadnya di dunia. Lantas datanglah dua
orang malaikat yang memerintahkannya untuk duduk. Mereka berdua bertanya,
‘Siapakah rabbmu?’, ‘Rabbku adalah Allah’ jawabnya. Mereka berdua kembali
bertanya, ‘Apakah agamamu?’, ‘Agamaku Islam’ sahutnya. Mereka berdua bertanya
lagi, ‘Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?’ “Beliau adalah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” jawabnya. ‘Dari mana engkau tahu?’
tanya mereka berdua. ‘Aku membaca Al-Qur’an lalu aku mengimaninya dan
mempercayainya’. Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit yang menyeru,
‘(Jawaban) hamba-Ku benar! Maka hamparkanlah surga baginya, berilah dia pakaian
darinya lalu bukakanlah pintu ke arahnya’. Maka menghembuslah angin segar dan
harumnya surga (memasuki kuburannya) lalu kuburannya diluaskan sepanjang mata
memandang.
Saat itu datanglah seorang (pemuda asing) yang amat tampan memakai pakaian yang
sangat indah dan berbau harum sekali, seraya berkata, ‘Bergembiralah, inilah
hari yang telah dijanjikan dulu bagimu’. Mukmin tadi bertanya, ‘Siapakah
engkau? Wajahmu menandakan kebaikan’. ‘Aku adalah amal salehmu’ jawabnya. Si
mukmin tadi pun berkata, ‘Wahai Rabbku (segerakanlah datangnya) hari kiamat,
karena aku ingin bertemu dengan keluarga dan hartaku.
Adapun orang kafir, di saat dia dalam keadaan tidak mengharapkan akhirat dan
masih menginginkan (keindahan) duniawi, turunlah dari langit malaikat yang
bermuka hitam sambil membawa kain mori kasar. Lalu mereka duduk di
sekelilingnya. Saat itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan duduk di arah
kepalanya seraya berkata, ‘Wahai nyawa yang hina keluarlah dan jemputlah
kemurkaan dan kemarahan Allah!’. Maka nyawa orang kafir tadi ‘berlarian’ di
sekujur tubuhnya. Maka malaikat pencabut nyawa tadi mencabut nyawa tersebut
(dengan paksa), sebagaimana seseorang yang menarik besi beruji yang menempel di
kapas basah. Begitu nyawa tersebut sudah berada di tangan malaikat pencabut
nyawa, sekejap mata diambil oleh para malaikat bermuka hitam yang ada di
sekelilingnya, lalu nyawa tadi segera dibungkus dengan kain mori kasar.
Tiba-tiba terciumlah bau busuk sebusuk bangkai yang paling busuk di muka bumi.
Lalu nyawa tadi dibawa ke langit. Setiap mereka melewati segerombolan malaikat
mereka selalu ditanya, ‘Nyawa siapakah yang amat hina ini?’, ‘Ini adalah nyawa
fulan bin fulan’ jawab mereka dengan namanya yang terburuk ketika di dunia.
Sesampainya di langit dunia, mereka minta izin untuk memasukinya, namun tidak
diizinkan. Rasulullah membaca firman Allah:
لا تفتح لهم أبواب السماء ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط
“Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit dan
mereka tidak akan masuk surga, sampai seandainya unta bisa memasuki lobang
jarum sekalipun.” (QS. Al-A’raf: 40)
Saat itu Allah berfirman, ‘Tulislah namanya di dalam Sijjin di bawah bumi’,
Kemudian nyawa itu dicampakkan (dengan hina dina). Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ta’ala:
وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ
أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيْحُ فِي مَكَانٍ سَحِيْقٍ
“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah
jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat
yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)
Kemudian nyawa tadi dikembalikan ke jasadnya, hingga datanglah dua orang
malaikat yang mendudukannya seraya bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Hah hah… aku
tidak tahu’ jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah agamamu?’ “Hah
hah… aku tidak tahu’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang
yang telah diutus untuk kalian?’ “Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya. Saat itu
terdengar seruan dari langit, ‘Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan neraka
baginya dan bukakan pintu ke arahnya’. Maka hawa panas dan bau busuk neraka pun
bertiup ke dalam kuburannya. Lalu kuburannya di ‘press’ (oleh Allah) hingga
tulang belulangnya (pecah dan) menancap satu sama lainnya.
Tiba-tiba datanglah seorang yang bermuka amat buruk memakai pakaian kotor dan
berbau sangat busuk, seraya berkata, ‘Aku datang membawa kabar buruk untukmu,
hari ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu’. Orang kafir itu seraya
bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kesialan!’, ‘Aku adalah
dosa-dosamu’ jawabnya. ‘Wahai Rabbku, janganlah engkau datangkan hari kiamat’
seru orang kafir tadi. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (XXX/499-503) dan dishahihkan
oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak (I/39) dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal.
156)
Itulah dua model kehidupan orang yang telah masuk liang kubur. Jika kita
menginginkan untuk menjadi orang yang dibukakan baginya pintu ke surga dan
diluaskan liang kuburnya seluas mata memandang maka mari kita berusaha untuk
memperbanyak untuk beramal saleh di dunia ini.
Suatu amalan tidak akan dianggap saleh hingga memenuhi dua syarat:
Ikhlas
Sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang merupakan landasan dua syarat di atas.
Di antara dalil syarat pertama adalah firman Allah ta’ala:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat
dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS.
Al-Bayyinah: 5)
Di antara dalil syarat kedua adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku,
maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya (III/1344 no 1718))
Allah menghimpun dua syarat ini dalam firman-Nya di akhir surat Al-Kahfi:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ
وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا
يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam
beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Maka mari kita manfaatkan kehidupan dunia yang hanya sementara ini untuk
benar-benar beramal saleh. Semoga kelak kita mendapatkan kenikmatan di alam
kubur serta dihindarkan dari siksaan di dalamnya, amin.
Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyyina muhammadin wa ‘ala alihi
wa shahbihi ajma’in.
Tulisan ini terinspirasi dari kitab Majalis Al-Mu’minin Fi Mashalih Ad-Dun-Ya
Wa Ad-Din Bi Ightinam Mawasim Rabb Al-’Alamin, karya Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syahlub
(II/83-86)
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah adzab kubur terhadap
orang mukmin yang berbuat maksiat dapat diringankan ?
Jawaban
Ya, kadang-kadang diringankan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
lewat dua kubur lalu berkata : “Keduanya benar-benar sedang diadzab, keduanya
diadzab karena hal yang besar, benar, dia itu hal yang besar, salah satunya
diadzab karena tidak bersuci dari kencing, atau beliau berkata : “Tidak
bertabir waktu kencing, dan yang lain diadzab karena suka mengadu domba/membuat
fitnah”. Kemudian beliau mengambil pelepah yang masih basah, lalu dibagi dua
kemudian menancapkan pada tiap kubur satu buah dan berkata : “Semoga adzab
keduanya diringankan selama pelepah itu berlum kering” [1]
Ini merupakan dalil bahwa terkadang adzab kubur itu bisa diringankan, namun apa
hubungan antara dua pelepah kurma yang basah itu dengan diringankannya dua
orang yang sedang diadzab ini ?
[1]. Ada yang berpendapat bahwa kedua pelepah ini senantiasa bertasbih selama
belum kering, sedangkan tasbih bisa meringankan adzab bagi si mayit. Kesimpulan
dari illat ini –yang kadang meleset jauh- bahwasanya disunnahkan kepada manusia
untuk pergi ke kuburan dan bertasbih di sisinya agar adzabnya diringankan.
[2]. Sebagian ulama berkata : Penentuan seperti diatas adalah lemah karena dua
pelepah itu tetap bertasbih baik dalam keadaan basah maupun kering, Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih
kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi
kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Penyantun lagi Maha Pengampun” [Al-Isra : 44]
Pernah terdengar tasbihnya kerikil oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, padahal kerikil itu kering, jadi apa illatnya?
Illatnya adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengharap
kepada Allah Azza wa Jalla agar adzab kedua orang itu diringankan selama dua
pelepah itu masih basah, artinya bahwa tempo waktunya tidak panjang, dan hal
itu dalam rangka untuk memberi peringatan akan perbuatan kedua orang tadi
karena perbuatan mereka berdua itu persoalan besar, sebagaimana diterangkan
dalam sebuah riwayat : “benar, bahwa itu adalah urusan besar”. Orang yang
pertama tidak bersuci dari kencing, dan bila tidak bersuci dari kencing berarti
dia shalat tanpa bersuci. Sedangkan yang kedua banyak memfitnah/mengadu domba,
yang merusak hubungan antara hamba-hamba Allah –aku berlindung kepada Allah-
serta melemparkan diantara mereka api permusuhan dan kebencian, dan ini adalah
persoalan besar. Inilah pendapat yang paling dekat dengan kebenaran, bahwa hal
hal itu merupakan syafa’at sementara sebagai peringatan untuk umat bukan
merupakan kebakhilan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi
syafa’at selamanya.
Beralih dari pembicaraan, kami katakan : bahwa sebagian ulama –semoga Allah
memaafkan mereka- mengatakan : “Disunnahkan agar manusia meletakkan pelepah
basah, atau pohon atau semacamnya di atas kuburan agar adzabnya diringankan,
akan tetapi kesimpulan ini jauh sekali dan tidak boleh kita melakukan hal itu
karena beberapa alasan :
Pertama : Kita tidak tahu bahwa orang tersebut sedang diadzab, berbeda halnya
dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua : Jika kita melakukan hal itu maka kita telah berbuat buruk sangka
terhadap mayit itu karena telah punya dugaan jelek (su’udzon) kepadanya bahwa
dia sedang diadzab, siapa tahu dia sedang diberi nikmat. Siapa tahu mayit ini
termasuk orang yang mendapat ampunan dari Allah sebelum matinya karena adanya
satu dari sekian banyak sebab ampunan, lalu dia mati dan Rabb para hamba telah
mema’afkannya, dan saat itu dia tidak berhak mendapatkan adzab.
Ketiga : Kesimpulan ini menyelisihi pemahaman Salafush Shalih yang mereka itu
merupakan manusia yang paling mengerti tentang syari’at Allah. Tidak ada seorangpun
dari sahabat Radhiyalahu ‘anhum yang mengerjalan hal itu, lalu apa urusannya
kita melakukan hal itu?
Keempat : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka bagi kita (amal)
yang lebih baik daripada hal itu. Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
apabila telah usai penguburan mayit beliau berdiri dan berkata :
“Artinya : Mintakanlah ampunan untuk saudaramu dan mintalah untuknya keteguhan
karena dia sekarang akan ditanya” [2]
[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa
Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]
__________
Foote Note
[1]. Dikeluarkan oleh Bukhari, Kitabul Janaiz, Bab Adzabul Qabri Minal Ghibah
wal Baul : 1378 dan Muslim, Kitab Thaharah, bab Ad-Dalil A’la Najasatil Baul wa
Wujubil Istira’ minah : 292
[2]. Diriwayatkan oleh Abu Daud, kitabul Jazaiz, bab Istighfar ‘indal qabri Lil
Mayyit Fi Waqtil Inshairat : 3221]
Adakah dari kita yang tidak
mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala
telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan
kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada
kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Ya, setiap dari kita
insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang
telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu
orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian
mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan
mereka.
Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah
kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung
akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya
perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia
ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung
akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu
memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)
Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju
akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang
hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada
pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore,
yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah,
akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk
penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.
Fitnah Kubur
Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah
kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya
dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah
Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)
Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya
ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat,
maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang
akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang
yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga
pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk
diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan
hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan
untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan
ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai
saudariku!
Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur.
Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan
mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan.
Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh
nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan
dihadapkan kepada adzab kubur.
Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang
artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan
orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang
mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga
di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul
khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup
dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga
pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia
dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bentuk-Bentuk Siksa Kubur
Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak
bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin
pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab
disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah
Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak
mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir
kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar
dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu
‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”
Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:
Dipecahkan kepalanya dengan batu, kemudian Allah tumbuhkan lagi kepalanya,
dipecahkan lagi demikian seterusnya. Ini adalah siksa bagi orang yang
mempelajari Al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya dan juga siksa bagi orang yang
meninggalkan sholat wajib.
Dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepala, demikian juga hidung dan kedua
matanya. Merupakan siksa bagi orang yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu
berdusta dan kedustaannya itu mencapai ufuk.
Ada kaum lelaki dan perempuan telanjang berada dalam bangunan menyerupai
tungku. Tiba-tiba datanglah api dari bawah mereka. Mereka adalah para pezina
lelaki dan perempuan.
Dijejali batu, ketika sedang berenang, mandi di sungai. Ini merupakan siksa
bagi orang yang memakan riba.
Kaum yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek adalah kaum yang
mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni
perbuatan jelek mereka.
Kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah
dan dada mereka. Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain
(menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.
Adzab dan nikmat kubur adalah benar adanya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan
‘ijma ahlu sunnah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan
kepada Allah dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal
itu. Dan hal ini hanya diingkari oleh orang-orang Mulhid (atheis). Mereka
mengatakan bahwa seandainya kita membongkar kuburan tersebut, maka akan kita
dapati keadaannya seperti semula. Namun, dapat kita bantah dengan dua hal:
Dengan dalil Al Qur’an dan Sunnah dan ‘ijma salaf yang menunjukkan tentang
adzab kubur.
Sesungguhnya keadaan akhirat tidak bisa disamakan dengan keadaan dunia, maka
adzab atau nikmat kubur tidaklah sama dengan apa yang bisa ditangkap dengan
indra di dunia. (Diringkas dari Syarah Lum’atul I’tiqod, hal 65-66)
Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang
pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak mengecapnya. Demikian
juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani
keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan bagaimananya. Sebab akal
memang tidak dapat memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah
mereka alami di dunia ini.
Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang
mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur
maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi
abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh
dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat
Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka
adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya,
“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari
terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke
dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir,
“Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat
tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)
Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya
berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya,
kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul
Akhir Hammad al Ghunaimi)
Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan
perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita
yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan…
maka jangan siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat
kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan
mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri
yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi
???
Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada
dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat
untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau
mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia
berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu
selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai
rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta
dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai,
bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
Aqidah Ath-Thahawiyah, Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi
(diambil dari Mutuunut Tauhidi wal ‘Aqiidati)
Syarah Al Waajibaat al Mutahattimaat al Ma’rifah ‘alaa kulli Muslim wa Muslimah
(edisi terjemah), Syaikh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al Khuraishi,
Pustaka Imam Syafi’i
Syarah Lum’atul I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin
Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah (jilid 2. edisi Terjemah), Syaikh Abdul Akhir
Hammad al Ghunaimi, Penerbit At Tibyan
Alam
Barzah adalah kurun waktu (periode) di antara saat kematian manusia di dunia
ini dengan saat pembangkitan (dihidupkannya kembali) manusia di Hari
Pembalasan. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam periode ini. Namun
demikian, kita dapat menyimak dari berbagai ayat didalam kitab suci Al-Qur-an
dan Hadits Nabi Muhammad SAW mengenai periode ini. Sebagai contoh, Allah SWT
berfirman dalam Surat Al-An’aam Ayat 93
Jika saja kamu dapat melihat betapa dahsyatnya saat orang-orang zalim didalam
sakaratul maut, Para malaikat memukul dengan tangan mereka (seraya berkata),
“Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini kamu akan dibalas dengan siksa yang
menghinakan; karena perkataan-perkataanmu yang selama ini kamu ucapkan perihal
Allah yang tidak benar, dan kamu selalu sombong terhadap petunjuk
(ayat-ayat)-Nya.”
Jelaslah dari ayat ini bahwa manusia bisa mendapatkan hukuman diwaktu kematian
mereka.
Begitu juga dengan firman Allah SWT didalam Surat Al-Anfal ayat 50 51:
Jika saja kamu dapat melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang
kafir di saat kematian mereka, seraya memukul wajah dan punggung mereka (sambil
berkata), “Rasakanlah olehmu siksa yang membakar.
Yang demikian itu akibat dari perbuatanmu sendiri (semasa hidupmu).
Sesungguhnya Allah tidaklah sekali-kali berbuat aniaya terhadap hamba-hamba-Nya.
Jelaslah sudah dari dua ayat diatas bahwa, kita tidak bisa melihat apa yang
terjadi pada kurun waktu itu. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun tidak bisa
menyaksikan bagaimana para malaikat menyiksa orang-orang kafir di pertempuran
Badar. Peristiwa yang tidak tampak oleh mata ini di jelaskan kepada kita
sebagai wujud kasih-sayang Allah SWT, untuk petunjuk bagi kita. Lebih lanjut
para ulama menjelaskan, bagian ayat “rasakanlah olehmu siksa yang membakar”,
bahwa para malaikat mencambuk para kafirin dengan batang baja yang membara ke
wajah dan punggung mereka.
Allah SWT menjelaskan perihal penenggelaman para pengikut Fir’aun didalam Surat
Nuh Ayat 25:
Mereka ditenggelamkan akibat dosa-dosa yang telah mereka lakukan, kemudian
mereka dimasukkan kedalam api neraka. Maka tiadalah mereka dapati penolong
selain Allah.
Disini lebih jelas disebutkan bahwa pengikut Fir’aun dilemparkan kedalam api
neraka setelah mereka ditenggelamkan didalam air (laut), menunjukkan bahwa ada
hukuman yang langsung dijatuhkan ketika kematian itu datang. Menarik untuk
digaris-bawahi bahwa hukuman api neraka disebutkan bersama-sama dengan
penenggelaman kedalam air. Imam Razi mengatakan bahwa hal ini merupakan bukti
kuat adanya hukuman di alam Barzah maupun didalam kubur. Beliau menegaskan,
penggunaan kata “fa” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa hukuman api neraka
itu telah ditimpakan segera setelah penenggelaman mereka. Jadi, disini tidak
merujuk pada hukuman pada Hari Pembalasan.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ghafir (disebut juga Al-Mu’min) Ayat 45, 46:
Maka, Allah telah menyelamatkannya dari tipu daya jahat yang mereka rancang
(terhadapnya), dan Fir’aun beserta pengikutnya dikelilingi oleh adzab yang amat
buruk.
Api neraka dinampakkan kepada mereka pada pagi dan petang. Dan pada saat Hari Pembalasan
tiba (diperintahkan kepada malaikat): “Masukkanlah para pengikut Fir’aun
kedalam siksa yang amat pedih.”
Dari ayat ini, sekali lagi terbuktikan adanya hukuman untuk orang-orang kafir
didalam kubur, selain dari hukuman yang akan diterima mereka di Hari
Pembalasan.
Abdullah bin Mas’ud RA menerangkan, bahwa ayat ini menyatakan ruh para pengikut
Fir’aun dibawa menuju neraka dalam bentuk burung-burung hitam setiap pagi dan
petang. Kepada mereka itu dikatakan bahwa, inilah tempat tinggal mereka yang terakhir.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Takatsur Ayat 1~4:
Bermegah-megahan duniawi telah melalaikanmu. Sehingga kamu masuk kedalam kubur.
Janganlah begitu, kamu akan segera mengetahuinya (akibat perbuatanmu itu).
Sekali lagi, janganlah begitu, kamu akan segera mengetahuinya.
Disini terdapat pengulangan kalimat ‘Kamu akan segera mengetahuinya’. Khalifah
‘Ali RA menjelaskan hal pengulangan kalimat ini, sebagaimana diriwayatkan oleh
Zir bin Hubeisy RA, bahwa kalimat pertama merujuk kepada siksa kubur dan yang
ke-dua merujuk kepada Hari Pembalasan.
Pada akhirnya, Allah SWT menegaskan didalam Al-Qur’an (Surat Thaahaa Ayat 124):
Barang siapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan
yang sempit, dan pada Hari Pembalasan, Kami akan membangkitkannya dalam keadaan
buta.
Ibnu Mas’ud RA dan Abu Sa'id Al-Khudri RA mengatakan bahwa arti ungkapan ‘hidup
yang sempit’ adalah siksa kubur. Begitu juga, Abu Hurairah RA meriwayatkan,
bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda mengenai arti kalimat diatas adalah, Allah SWT
akan mengirim 99 ekor ular ke dalam kubur orang-orang kafir. Ular-ular ini
terus-menerus menggerogoti tubuh orang kafir itu hingga Hari Pembalasan tiba.
Lalu apa yang terjadi dengan jiwa seseorang setelah mati? Sebagaimana
diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ketika jiwa
seseorang yang beriman meninggalkan jasadnya, ia diangkat ke langit oleh dua
malaikat. Malaikat-malaikat itu berkata, jiwa yang shaleh (baik) telah kembali
dari bumi. Semoga Allah SWT memberkahimu dan tubuh yang dulu biasa kau tempati.
Jiwa itu kemudian dihadirkan kepada Allah SWT. Kemudian Allah memerintahkan,
“Tempatkan jiwa ini di Sidratul-Muntaha sampai datangnya Hari Pembalasan.
Ketika jiwa orang kafir keluar dari jasadnya, para malaikat mengatakan bahwa
jiwa yang buruk telah kembali dari bumi. Para malaikat mengutukinya dan bau
busuknya menyebar ke segala penjuru. Allah SWT memerintahkan kepada para
malaikat agar menempatkannya didalam Sijjin. Jadi, Sijjin adalah suatu tempat
dimana jiwa dan amal perbuatan orang-orang kafir disimpan. Rasulullah SAW
menutupkan pakaian ke hidung beliau untuk menggambarkan betapa busuknya bau
jiwa seorang kafir. (H.R. Muslim)
Ada beberapa hadits yang menerangkan lebih lanjut perihal periode di alam
kubur.
Anas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, ketika seseorang selesai
dikuburkan setelah kematiannya dan keluarga serta teman-temannya telah
meninggalkan kuburnya, ia bisa mendengar suara langkah-langkah kaki yang pergi
meninggalkannya. Dua malaikat mendatangi si mayit di dalam kuburnya. Kedua
malaikat itu membuatnya terduduk dan menanyainya dengan pertanyaan berikut ini:
“Apakah yang engkau ketahui perihal Muhammad (SAW)?” Orang yang sungguh-sunguh
beriman menjawab, “Saya bersaksi bahwa beliau adalah hamba Allah SWT yang taat
dan Rasul (utusan)-Nya yang benar.” Para malaikat itu kemudian berkata, “Jika
kamu tidak beriman, tempatmu pastilah didalam neraka. Sekarang, lihatlah olehmu
neraka itu. Dan Allah SWT telah menggantinya dengan surga firdaus dan lihatlah
juga olehmu surga itu sekarang.”
Orang-orang munafik dan orang-orang kafir pun akan diberi pertanyaan yang sama,
“Apakah yang kamu ketahui tentang Muhammad SAW?” Mereka menjawab, “Tidak ada
satupun yang aku ketahui, dulu aku hanya mengatakan apa yang dikatakan
orang-orang.” Para malaikat akan mengatakan kepadanya, “Tidakkah kamu pernah
mencoba untuk mengenalnya atau pernahkah kamu ikuti orang-orang yang beriman?”
Dan para malaikatpun memukulnya dengan batang besi panas. Orang kafir itupun
menangis kesakitan dengan sekencang-kencangnya, semua yang berada di alam raya,
kecuali jin dan manusia, akan mendengar ratap-tangisnya. (Bukhari dan Muslim)
Asma bin Abu Bakar RA meriwayatkan bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad SAW
menasehati umat dan menjelaskan perihal siksa kubur. Ketika beliau menjelaskan
hal ini, semua orang beriman mulai menangis dengan kerasnya, sehingga
terciptalah suasana seperti berbaurnya beraneka-ragam ratap-tangis. (Bukhari)
Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melantunkan do’a berikut ini
seperti halnya beliau membaca ayat-ayat dari Al-Qur’an: “Ya Allah, sesungguhnya
aku memohon perlindungan dan pertolonganmu dari siksa neraka, dari siksa kubur,
dari ujian semasa hidup dan ketika mati, dan dari godaan yang berhubungan
dengan dajjal.” (Muslim)
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Membaca Surat Al-Mulk sebagai sebuah
kebiasaan rutin akan menyelamatkan seseorang dari siksa kubur.” (Tirmidzi)
Saya berdoa kepada Allah SWT memohon perlindungan dan pertolongan-Nya, bagi
saya dan para pembaca maupun penyimak artikel ringkas ini, dari siksa neraka,
siksa kubur, dan dari ujian yang terkait dengan Dajjal. Amiin.